 |
Pict. Wayang Kulit (Sidik Purnama Negara) |
Bibit
Serangkai adalah wadah sekumpulan orang-orang yang bergerak dalam hal Budaya
Adiluhung Jawa. Anggota kami berjumlah 27 orang, tersebar di Cilacap, Purwokerto,
Jogjakarta, Malang, Jakarta, dan Brebes. Di sini, kami menggunakan media
internet untuk sarana komunikasi dan sosialisasi pada dunia luas, agar dapat
mengetahui tentang hidup, budaya, dan jiwa manusia. Banyak kegiatan yang telah
kami lakukan.
Asal
muasal kata Bibit Serangkai bukanlah kata biasa dari hasil pemikiran atau
kesepakatan orang-orang. Kata-kata ini bersumber dari ilham yang didapatkan
oelh Sidik Purnama Negara ketika melakukan semedi. Awalnya, Bibit Serangkai
kami gunakan untuk nama bentuk upaya
penghidupan kami di bidang penerbitan buku, percetakan, pengadaan alat
pendidikan, dan lain-lain. Akan tetapi, kemudian kami juga menggunakan Bibit
Serangkai untuk mewakili keberadaan kami dalam tujuan yang sedang kami gapai.
Bibit
serangkai mempunyai 2 makna tapi satu inti. Yaitu, “bibit” bisa diartikan sebagai induk atau pun benih; “serangkai”, artinya: satu rangkai,
kesatuan & persatuan dari beberapa unsur yang saling terkait dan tidak
dapat berfungsi jika bagiannya terpisah. Oleh karena itu, makna Bibit Serangkai
adalah: Satu rangkai unsur yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu
per satu, sebagai induk, sekaligus benih untuk mewujudkan kehidupan baru.
Dalam
hal hidup, kebanyakan diantara kami adalah orang-orang yang suka belajar
tentang arti dan hakikat hidup. Sebagai manusia yang merupakan makhluk paling
sempurna, kita semestinya mengetahui siapa diri kita dan untuk apa kita hidup.
Apa itu manusia? Apa itu hidup? Apa itu penghidupan? Dan, apa itu kehidupan? Semua
wajib kita ketahui dan kita masukkan pada lubuk hati kita, agar tidak lupa. Manusia
yang tidak mengerti tentang dirinya dan tentang hidupnya, adalah manusia yang
mudah sekali terombang-ambingkan oleh nafsu yang bisa mencelakainya.
Bertahun-tahun
kami belajar pada kehidupan secara nyata, dan didominasi dengan membaca alam
nyata, bukan belajar dari tulisan. Karena dalam filosofi Jawa, untuk menjadi
sejatinya manusia, manusia itu harus melakukan (menjalani) perjalanan hidup
yang macam-macam. Sakit, lapar, sengsara, dan merasakan perihnya batin, adalah
media belajar yang mengandung hikmah sangat dalam, bagi manusia yang mau
menghayatinya. Jika sudah mampu membahagiakan hati dalam keadaan sakit, lapar,
sedih, dan sebagainya tersebut, itu berarti termasuk dalam golongan orang
tertentu. Maksudnya, golongan orang-orang yang dipastikan bisa bermanfaat bagi
orang lain.
Dalam
hal budaya, kami membaginya menjadi 3 bidang, yaitu adat, tradisi, dan seni. Pada
bidang adat, kami selalu menegakkan pandangan dan pendirian kami pada adat
Jawa. Kami merasa, adat Jawa adalah warisan yang sangat sakral dari leluhur
kita. Jika dikatakan adat Jawa banyak mengandung klenik dan tahayul, menurut
kami itu sangat kurang tepat. Dari adat Jawa, kita bisa mengenal dan
mengimplementasikan ajaran sembah, sungkem, dan bhakti, yang luhur.
Dari
adat Jawa, kita bisa mengetahui tentang tradisi beserta maknanya. Tradisi merupakan
aktivitas rutin maupun temporer yang bertujuan untuk memberikan penghormatan
pada kaum pengkhususan. Kaum khusus yang dimaksud adalah kaum yang telah matang
dalam hal ulah rasa. Namun, mereka sesungguhnya bukan merupakan kaum yang suka
dihormati, karena mereka takut jika itu bisa menimbulkan penghormatan yang
berlebihan. Maka, untuk menghindari hal tersebut, Para Kaum yang terkhususkan
itu bersepakat, bahwa bahasa rasa dan isyarat yang tersyarat, terwujud dalam
festival atau peringatan bersama.
Diantara
tradisi yang masih dikenal dan sering dijalani oleh masyarakt Jawa adalah: Tradisi
Ruwatan Bumi, pada bulan tertentu (tergantung wilayah masing-masing); Tradisi
Suran, pada bulan Sura; Tradisi Sadranan; Tradisi Upakarti pada kehamilan – kelahiran;
dan tradisi lainnya. Sedangkan kami, dalam melaksanakan beberapa diantara
tradisi tersebut, selalu menggunakan sistem gotong royong dan ditambah dengan
beberapa simpatisan, khususnya pada Tradisi Suran yang sering menggunakan
banyak perlengkapan dalam perayaannya. Sedangkan untuk tradisi dalam skala
kecil pada kami, memperingati hari kelahiran dan hari-hari yang diutamakan
dalam Budaya Adiluhung Jawa, adalah tradisi yang seperti telah menjadi
kewajiban untuk dijalani, meski hanya dengan sebuah tirakat (Tirakat: belajar membersihkan hati, mengurangi makan makanan
yang membesarkan nafsu pada diri, makanan yang berbumbu dan makanan yang terasa
nikmat menurut mayoritas orang).
Sedangkan
dalam bidang seni, kami juga belajar banyak tentang gamelan, wayang, beserta
falsafahnya, sejarahnya, dan kandungannya bagi umat manusia di dunia. Selain
itu, kami juga mempunyai regu musik tradisional khas Cilacap. Musik tradisional
itu disebut Musik Jala Bhumi. Regu seni musik kami dipimpin oleh Ki Ajar Sidik Purnama Negara, yang juga merupakan pencipta lagu-lagu Jawa
yang diiringi dengan musik tradisional itu. Upaya kami dalam hendak mewujudkan
Musik Khas Jala Bumi selama bertahun-tahun ini, ternyata belum mencapai titik
puncak tujuan. Berbagai upaya telah kami lakukan melalui jalur dinas maupun
swasta, tetapi nampaknya untuk mewujudkan itu membutuhkan biaya yang tidak
sedikit. Adapun tentang tembang Jawa dalam musik kami itu adalah merupakan
tembang yang mengandung nilai-nilai luhur tentang rasa prikemanusiaan (sosial –
budaya, kebangsaan), bukan tentang cinta atau pun khayalan.
Dari
semua bidang, yang menjadi “orang tua” dalam komunitas kami ini adalah Ki Ajar
Sidik Purnama Negara. Beliau adalah seorang ritualis (pertapa), budayawan, dan
sekaligus seorang muti-talent yang handal dalam banyak hal. Termasuk pada
kejiwaan manusia, Ki Ajar Sidik Purnama Negara juga selalu membekali
orang-orang di sekitarnya dengan banyak nasehat dan kalimat-kalimat penyejuk batin,
yang bisa membangkitkan kesungguhan hidup dan pencerahan pada jiwa orang-orang
yang sedang muram.
Selain
mengajarkan secara langsung pada orang-orang di lingkarannya, Sidik Purnama
Negara juga menuliskan ilham dan ungkapan hatinya tentang pembangunan budi
pekerti manusia, dalam buku-buku karyanya sendiri. Pada tahun 2010 dan 2013,
bukunya diterbitkan dan diedarkan di salah satu toko buku besar se-Indonesia. Hingga
kini, karya buku beliau yang belum tepublikasikan, masih banyak.
Untuk
dapat menuliskan tentang hidup, budaya, dan kejiwaan manusia, yang sesungguhnya
itu semua terangkum dalam Budaya Adiluhung Jawa, bukanlah tidak melalui proses
yang biasa saja. Sidik Purnama Negara telah terbiasa hidup dalam keadaan
prihatin dan berani lapar, berani sedih, dan berani hidup di hutan yang sangat
sepi, dalam tempo bertahun-tahun, dengan berbagai aktivitas lahir batin. Ujian dalam
laku-lampah seperti demikian,
tidaklah ringan. Selain harus berani, mau, dan harus bisa hidup dalam keadaan prihatin,
juga harus siap ketika tidak disukai banyak orang dan juga harus bisa
menempatkan diri ketika dipuja bagai Dewa.
Hal seperti
di atas, juga diajarkan oleh Sidik Purnama Negara kepada “anak-anaknya” yang
sungguh-sungguh berniat untuk mengasah batin dan membersihkan diri, sembari
belajar Budaya Adiluhung, menimba kawruh (pengetahuan tentang hayat),
bertirakat, ber-riyadoh, semedi, dan sebagainya yang merupakan aktivitas pencerahan
jiwa. Perbandingan antara banyak dan sedikitnya dari kami yang kuat
menjalaninya, adalah paling banyak yang tidak kuat dari pada yang kuat. Bahkan perbandingannya
98% yang tidak kuat, dan sisanya hanya tinggal 2% yang bisa dikatakan sanggup dan konsisten.
Selain
aksi sosial yang berupaya untuk tanpa pamrih, di sisi lain kami juga
melaksanakan upaya penghidupan (dalam bahasa awam: penghasilan). Beberapa upaya
penghasilan yang kami lakukan adalah berupaya seperti orang-orang pada umumnya
sesuai bidang kebisaan/ keahliannya. Ada yang menjalani bidang sastra, penerbitan
& percetakan, bidang pertanian dan perkebunan, bidang pendidikan &
perkuliahan, bidang pembangunan fisik (proyek gedung, jalan), bidang upaya
imbal setimpal (dalam bahasa awam: perdagangan), bidang upaya kerajinan/ ketrampilan tangan
(pelukis, produsen stik es krim, tukang kayu), serta ada orang khusus yang berada
pada kolom ritual dan spiritual. Namun, semua bidang upaya penghidupan tersebut
tetap memprioritaskan dan mengutamakan Budaya Adiluhung Jawa dengan niat untuk
kemanfaatan banyak orang. Maksudnya, meskipun semua sibuk di bidangnya
masing-masing, niat dan tekad batinnya tetap bergerak untuk mewujudkan tujuan
utamanya, yaitu mewujudkan Budaya Adiluhung Jawa agar kembali pada posisi
sejatinya, kembali digelarnya Budaya Adiluhung Jawa demi tata rasa
kesejahteraan bersama sesuai ukurannya.

Bibit
Serangkai masih mempunyai kewajiban utama yang lebih utama dari pada sekedar
aktivitas duniawi yang dilakukan orang-orang di bumi ini. Masih ada
pengembaraan yang panjang di alam lepas ini, dalam hal mendekatkan diri pada
Illahi, berdoa dan terus berdoa, memohon anugrah dan petunjuk Illahi, agar jaman
ketidak tepatan dengan nurani yang sedang terjadi sekarang ini, segera berakhir
dan berganti pada jaman kencana, atau jaman kejayaan Nusantara lagi.
Sebelum
mengakhiri uraian tentang kami, ada suatu hal tentang media internet yang
pernah kami buat sebelumnya. Beberapa tahun yang lalu, kami sudah mempunyai
website yang bertajuk sastraculture.com.
Namun, dikarenakan salah satu diantara kami belum ada yang bisa mengelola
website, alhasil website tersebut yang kami titipkan pada jasa pengelola,
ternyata terbengkelai, dan kini sudah tidak aktif. Sedangkan untuk Website
(blog) ini, kami beri nama dengan judul blog-nya adalah Bibit Serangkai. Nama ini
terambil dari nama komunitas kami yang terbaru, setelah sebelumnya kami
mempunyai nama komunitas relawan dan LSM Cinde Laras.
Waktu
semakin bergulir, semua makhluk Tuhan semakin melangkah melanjutkan tugasnya
sesuai perjanjiannya. Meski satu langkah perjalanan belum bisa dikatakan
sempurna, akan tetapi satu langkah itulah yang merupakan rangkaian untuk dapat
menjadi seribu langkah. Dan, walau pun banyak bibit-bibit generasi bangsa yang
pandai intelektualnya, belum tentu semua bisa bermanfaat dalam kehidupan orang
banyak.
Dalam
situs web ini, kami berupaya untuk menulis dan menjelaskan apa adanya tentang
apa yang tidak diketahui banyak orang. Sungguh, kami tidak bermaksud
menyinggung seseorang atau suatu golongan dalam penjelasan-penjelasan kami. Namun,
meski pahit terasa, mengatakan yang haq
dan sesuatu yang nyata, adalah merupakan bagian tindakan yang wajib dalam
hakikat hidup manusia.
Apabila
selama ini kami bertindak kurang tepat dalam pemikiran dan perasaan anda semua,
sudilah kiranya untuk dimaafkan yang setulus-tulusnya. Mari kita belajar
menghayati hidup dan mendalami budaya asli negeri kita sendiri, agar tidak
hilang ditelan budaya asing yang akan berdampak pada kehancuran negeri sendiri.
Atas perhatian dan kebersamaan dari berbagai pihak, kami haturkan terima kasih
yang sedalam-dalamnya. Semoga kita bisa menjadi manusia yang sesuai dengan
kesempurnaan dan kemuliaan manusia.
Hormat kami,
BIBIT SERANGKAI.
Jalan Raya Kesugihan – Cilacap, Jawa
Tengah 53274
HP: 085869261139.