Kata “maksud” menurut penulis adalah di atas batas
mengerti dan paham. Artinya, mengerti dan paham itu belum tentu
maksud. “Maksud” menurut penulis juga lebih bersifat abstrak
daripada mengerti dan paham. Artinya, mengerti dan paham adalah lebih
cenderung bisa terlihat dan tertunjukkan daripada maksud.
Dari sepanjang sejarah manusia, kebanyakan manusia di
dunia memang cenderung mengambil posisi mengerti dan memahami,
daripada memaksudi.
Misalnya, dari dulu memang sudah banyak sekali orang berdagang, dia
jelas-jelas mengerti dan paham mengenai dagang, tapi dia tidak tahu
maksud dagang, akibatnya dia hanya bangga dan cinta keuntungan dan
benci serta takut dengan kerugian. Dari dulu memang banyak orang
bertani, dia jelas mengerti dan paham mengenai bertani, tapi dia
tidak maksud tentang tani, akibatnya walaupun satu butir padi dapat
menjadi benih dan kemudian berbuah puluhan hingga ratusan butir, tapi
dia masih pula berkata rugi. Dari dulu memang sudah banyak para
pendiri dan pemimpin negara, tapi dia tidak maksud tentang negara,
akibatnya negara tetap belum lebih daripada sekedar alat mencari
kuasa atau jabatan yang berujung pada penumpukkan harta pribadi dan
atau keluarganya.