Kelurahan Donan merupakan
suatu wilayah yang cukup terkenal di Cilacap. Kelurahan ini sekarang merupakan
kawasan padat penduduk yang terdapat banyak perkantoran, dan industri atau
perusahaan besar. Untuk saat ini, Donan dikenal sebagai suatu tempat yang banyak
terdapat ‘orang kelas kakap’. Namun, walau demikian, Donan ternyata merupakan
tempat yang bersejarah terkait dengan Cilacap. Karena di Donan banyak terdapat
petilasan, dan juga di pemakaman Karangsuci, terdapat makam salah satu Bupati
Cilacap.
Dahulu kala, Desa (belum
kelurahan) Donan sangat luas, belum terpecah-pecah seperti sekarang. Sebagai daerah
pesisir yang dekat dengan Pulau Nusakambangan, mungkin merupakan kriteria
tempat yang cocok untuk digunakan olah rasa atau ritual (semedi, meditasi,
tapa). Buktinya, hingga saat ini masih banyak petilasan yang ada, meski
diantaranya sekarang sudah tidak termasuk dalam wilayah Kelurahan Donan.
Diantara petilasan tersebut adalah Panembahan Kendil Wesi, Panembahan Singa Lodra,
Dhaon Lumbung, dan petilasan Santri Udik.
Simak: Surat Terbuka Untuk Jokowi Isinya Solusi Obat Corona
Diantara tokoh-tokoh yang
pernah lelaku di Donan, salah satu yang tersebut adalah Santri Udik. Santri Udik
ini menimbulkan banyak versi cerita. Ada yang menyebutnya dengan nama Cantrik
Undik, Santri Gudig, santeri gundik, dan sebagainya. Ia pun dikatakan sebagai
murid dari Sunan Kalijaga. Bahkan ada juga yang menyebutnya sebagai Sunan
Kalijaga yang menyamar. Namun, yang jelas ia adalah seorang yang melakukan
perjalanan spiritual dengan tujuan tertentu yang tidak semua orang mengerti
tujuannya dan bahkan asal-usulnya.
Lalu siapakah sejatinya Santri
Udik? Untuk menambah wawasan, simak kisah di bawah ini:
Tuhan, ijinkanlah saya
menyajikan sebuah cerita...
 |
ilustrasi daerah pantai |
Semenjak Keraton Nusa Tembini
tidak ada, penduduk yang semula menempat di sekitar keraton dan di beberapa
wilayah lainnya, kemudian sebagian besar dari mereka menempat di Desa (sekarang
kelurahan) Donan, Cilacap. Dinamakan Desa Donan, menurut salah satu versi yang
dikenal masyarakt adalah karena di situ dulu merupakan daerah tepian Kalidonan,
yang banyak ditumbuhi pohon nipah. Pohon ini dalam bahasa Jawa dikenal dengan
nama Daon. Yaitu sebuah pohon yang berdaun seperti daun pohon kelapa dan
daunnya sering dimanfaatkan untuk membuat atap (saat ini masih sering digunakan
di rumah-rumah makan lesehan khas tradisional/ untuk atap saung). Karena wilayah
itu merupakan kawasan seperti rawa yang banyak pohon daonnya, maka dikenal
dengan sebutan daonan. Daonan itulah yang “mungkin” menimbulkan nama Donan.
Selain menempat di wilayah
Donan, para penduduk Nusa Tembini (Nusakambangan) pun saat itu banyak yang
mendirikan rumah-rumah di atas laut, di segara anakan dekat Nusakambangan
bagian barat. Kemudian wilayah itu hingga kini dikenal dengan desa Kampung
Laut, yang sekarang sudah merupakan kecamatan dari beberapa desa yang ada di
situ. Namun, kampung laut sekarang tidaklah berada di atas laut. Semenjak tahun
1980-an, lumpur dari Sungai Citanduy menyebabkan pendangkalan di wilayah segara
anakan dan kampung laut. Akhirnya, sekarang kampung laut sudah berkontur tanah,
meski merupakan dataran rendah dan sangat sulit untuk mendapatkan air sumur.
Kembali pada topik utama,
sebagian besar wilayah di Cilacap saat jaman Nusa Tembini merupakan kawasan
rawa-rawa yang sangat luas. Desa Donan termasuk ada dalam wilayah tersebut. Pada
saat itu, ada kejadian aneh yang hingga sekarang masih banyak orang
membicarakannya. Bahwasanya sejak Keraton Nusa Tembini tiada, di Desa Donan
sering muncul burung yang teramat besar. Burung ini dinamakan garuda beri. Dalam
suatu versi, konon burung garuda beri ini membuat ketakutan penduduk. Karena dikhawatirkan
akan memangsa manusia. Penduduk pun tidak ada yang berani menangkapnya.
Hingga lambat laun berita
tersebut didengar oleh seorang tokoh yang sedang nylamur lampah (lelaku, atau perjalanan spiritual dengan
mengembara). Dalam periode itu, beberapa wilayah di Cilacap dikenal sebagai
wilayah yang mempunyai ciri khas menarik. Diantara penyebabnya adalah wilayah
yang menarik itu karena terdapat petilasan atau tempat yang pernah digunakan
untuk bertapa oleh seorang yang luhur. Seorang lelaku itu pun ingin mendatangi
desa-desa di Cilacap. Ketika berada di sebuah hutan dekat rawa, Sang Pengembara
merasa haus dan ingin beristirahat. Namun, ternyata sumber air di hutan
tersebut tidak ditemukan.
Simak: Budayawan Ngapak Cilacap mbahas Lockdown
Saking lelahnya, sang
pengembara akhirnya beristirahat di dekat sebuah pohon besar dan menancapkan
kayu yang menjadi tongkatnya di dekat situ. Karena seorang yang sedang lelaku,
sabar dan pasrahnya menjadi pengobat kegelisahan. Setelah sejenak beristirahat
dan masih merasa haus, pengembara itu berniat melanjutkan perjalanan sambil
mencari sumber air. Namun, begitu tongkatnya dicabut, memancarlah air dari
tanah dimana ia menancapkan tongkat itu. Alhasil, sang pengembara meminum secukupnya.
Namun, dalam hal ini, air yang memancar tidaklah seperti musibah lumpur
sidoarjo. Pancaran air tersebut menjadi mata air dan membentuk sebuah sendang. Sendang
itu sekarang dinamakan Sumur Gemuling.
Karena kejadian tersebut,
akhirnya sang pengembara memutuskan untuk melakukan semedi (ngesti) di situ. Tempat
untuk semedi sang pengembara itu hingga saat ini masih ada dan menjadi cagar
budaya dalam bentuk panembahan. Sumur Gemuling pun masih ada dan masih sering
digunakan airnya untuk keperluan tertentu maupun keperluan biasa. Namun, sumur
gemuling saat ini tidak seperti beberapa tahun yang lalu. Karena, dahulu meski
terjadi kemarau panjang, volume air di dalam sumur ini tetap melimpah. Tetapi,
nampaknya sekarang tidak se-melimpah waktu dahulu.
Kemudian, dari hutan
tersebut, sang pengembara melanjutkan perjalanan ke arah barat hingga sampailah
di Desa Donan. Kabar tentang garuda beri yang sangat besar itu pun masih
menjadi trending topic saat itu.
Meski bagi masyarakat awam banyak yang ketakutan, tetapi ketakutan itu tidak
ada bagi seorang yang sedang lelaku. Karena, sesungguhnya orang lelaku adalah
orang yang sedang membersihkan dirinya (jiwanya) dan mengoptimalkan rasa yang
ada pada hidupnya.
Sebagai seorang pengembara
yang sedang melakukan perjalanan suci, kejadian garuda beri membuatnya sedikit
penasaran. Namun, rasa penasarannya tidak ditindak lanjuti dengan sikap
arogansi yang tanpa dasar. Sang pengembara tidak langsung mengambil keputusan
begitu saja. Seperti biasa, ia lalu bersemedi dan memohon petunjuk pada Yang
Maha Suci tentang adanya garuda beri.
Sesungguhnya garuda beri
bukanlah burung yang menakutkan dan tidak berbahaya, asal tidak diganggu. Sang pengembara
akhirnya mengetahui tujuan garuda beri itu. Garuda beri pun dimohon agar tidak
berkeliaran lagi, karena membuat takut penduduk. Dengan mengabulkan beberapa
persyaratan, akhirnya burung besar itu tidak menampakkan wujudnya lagi. Namun,
ada versi lain yang menyebutkan bahwa burung garuda beri dibunuh oleh murid
Sunan Kalijaga.
Sang pengembara itu
melanjutkan kisah hidupnya sebagai seorang ritualis. Karena wilayah daonan itu
dekat dengan Nusakambangan (Nusa Tembini), konon Sang Pengembara menetap dan
tetap spiritual di tepi pantai yang menghadap Nusakambangan itu. dalam
menjalani lelakunya, ujian kesabaran dan ketabahan yang ada dalam dirinya
adalah dia sedang mengalami penyakit kulit sejenis cacar (gudig atau
gatal-gatal). Namun, ia tidak pernah mengeluh dan berputus asa. Ujian itu wajar
dialami oleh para kaum ang sedang menjalani laku suci.
Hingga suatu saat, melalui
sebuah petunjuk, Sang Pengembara melakukan mandi di laut. Karena ketulusan dan
kesabaran dalam menjalani hidupnya selama ini, penyakit kulit yang dialami oleh
sang pengembara tersebut berhasil sembuh setelah mandi di laut. Sang pengembara
itu pun sangat bersyukur dan berterima kasih kepada sesama hidup dan Yang
Menjadikan Hidup. Mungkin dari kisah itulah, hingga saat ini beberapa orang
Jawa mempercayai bahwa mandi di laut dapat menyembuhkan penyakit kulit.
Sang Pengembara menempat
cukup lama di wilayah Donan. Tempat tinggal sang pengembara itu kemudian
dikenal dengan sebutan Dhaon Lumbung. Dhaon Lumbung merupakan tempat yang
dikeramatkan oleh masyarakat Jawa Cilacap sepeninggal sang pengembara. Hingga sekarang,
tempat tersebut masih terawat dan merupakan warisan sejarah atau cagar budaya.
Warga penganut kepercayaan Jawa (kejawen) dari berbagai desa, pada waktu-waktu
tertentu mengadakan selametan besar di sini. Diantaranya adalah warga kejawen
dari Desa Adiraja, Pekuncen Kroya, Pekuncen Jatilawang, Banjarwaru, dan lainnya.
Sedangkan hutan yang dulu
pernah menjadi tempat istirahat sang pengembara, lambat laun menjadi sebuah desa
yang gemah ripah. Desa itu kemudian dinamakan Desa Kuripan. Kuripan artinya
kehidupan. Mungkin disebabkan karena di desa itu terdapat sumur gemuling. Sumur
adalah sumber mata air yang juga merupakan sumber kehidupan. Desa Kuripan
berada di Kecamatan Kesugihan, tepatnya sebelah utara Desa Karangkandri (batas
kota Cilacap dari arah timur).
Adapun tentang sejatinya Santri
Udik, sesungguhnya yang mengetahui secara pasti hanyalah kaum atau orang yang linuwih d(mempunyai kelebihan) dalam hal
kebatinan. Meski banyak versi, semoga tidak menjadikan pemikiran buruk tentang
Santri Udik. Sebab, perjalanan setiap manusia sesungguhnya tidak ada yang buruk
dan tidak ada yang tersesat. Hanya saja, tingkatan dan keyakinan setiap manusia
berbeda-beda. Santri Udik dan panembahannya pun hingga sekarang banyak yang
tidak menyukai. Namun, sikap seorang yang bijaksana adalah tidak suka membenci
sesuatu, apalagi membenci sesuatu yang ia tidak mengetahui sejatinya.
Demikian tulisan ini kami
sajikan. Semoga bermanfaat, terima kasih.