Kendi merupakan sebuah perabotan yang terbuat dari tanah liat dengan bentuk menggelembung seperti balon dan mempunyai ukuran variatif, mulai diameter 10 cm hingga 35 cm. Dalam perabotan tanah liat yang paling umum digunakan, kendi terdapat dua jenis. Yaitu kendi masak dan kendi air.
Kendi masak merupakan kendi yang berguna untuk memasak, atau sebagai wadah masakan dan juga bisa difungsikan untuk merebus jamu herbal. Dalam Bahasa Jawa, kendi ini disebut kendil. Yaitu perabot yang berbentuk gelembung dengan bagian atas berlubang agak lebar (diameter lubang dan perut kendil hanya selisih sedikit).
Selain sebagai piranti untuk memasak dan merebus jamu, kendil juga sering digunakan sebagai wadah ari-ari bayi yang baru lahir. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, ari-ari dari bayi yang baru lahir sebaiknya diwadahi kendi kemudian digantung di plafon sudut luar rumah atau dikubur di tanah sekitar rumah.
Hal tersebut mempunyai tujuan agar sang bayi nantinya ketika tumbuh besar menjadi anak-anak hingga dewasa, akan selalu mengingat tanah kelahirannya dan tidak meninggalkan sejarah tentang dirinya. Dari filosofi itulah, sang ibu berharap agar nantinya anak selalu berbakti dan tidak menjadi kacang yang lupa kulitnya.
Kendi yang berikutnya adalah kendi air. Kendi air merupakan perabot yang berfungsi untuk menampung air minum. Bentuknya menggelembung di tengah dengan mempunyai leher/tangkai sebagai jalan pengisian air, dan juga lubang corot atau mulut kendi sebagai tempat keluarnya air agar bisa dituangkan ke gelas atau langsung ke mulut yang meminumnya. Ukuran dan bentuk kendi air minum sangat variatif.
Di Indonesia, banyak sekali sebutan untuk kendi air minum tersebut. Misalnya, di Banyumas dan sekitarnya, orang akan menyebut kendi air minum dengan istilah gogok; di Lampung disebut dengan istilah hibu; di Aceh disebut dengan istilah geupet bahlaboh; di Bali ada yang menyebutnya dengan kundi dan caratan, serta masih banyak lagi sebutan-sebutan kendi di berbagai penjuru negeri kita ini.
Selain sebagai penampung air, kendi juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Meskipun terbuat dari tanah liat yang rawan pecah, tetapi keantikannya dan keunikan bentuknya itulah yang menjadikan kendi menarik untuk dipandang. Kemudian, air yang disimpan di dalam kendi juga rasanya akan menjadi sejuk dan segar serta menyehatkan.
Orang-orang yang kini berusia 50 tahun ke atas khususnya, apalagi mereka yang dulu pernah tinggal di desa, banyak sekali yang merindukan kesegaran air kendi. Sayangnya, kendi air minum kini sulit dicari, apalagi di kota-kota besar, mungkin 1 banding 1000 yang menjualnya. Namun, bila kota besarnya adalah Yogyakarta, masih sangat mudah untuk mencari dan membeli kendi air minum.
 |
Kendi besar +/- 3 liter |
Bagi anda yang sering dan atau akan jalan-jalan ke Kota Budaya itu, jangan lupa mampir ke Pasar Beringharjo yang ada di Jalan Malioboro, di dalamnya (bagian belakang) banyak pedagang yang menjual kendi serta perabot tanah liat lainnya. Atau bila anda sempat, sekalian saja berkunjung ke sentra gerabah Kasongan - Bantul, di sana ada puluhan toko yang menjual aneka produk gerabah tanah liat. Harganya juga sangat terjangkau. :)
Kembali ke kendi, rasanya sangat tepat bagi kita untuk kembali menikmati kesejukan air yang tersimpan dari dalamnya. Kendi khas Jawa seperti buatan pengrajin Jogjakarta, Klaten, Cirebon, Ngawi, dan lainnya, yang asli adalah yang tidak berglassur. Kendi yang tidak berglasur itu lebih alami untuk menyimpan air dan kendi yang jenis itulah yang mampu menyegarkan dan membuat sejuk air minum di dalamnya. Sebab, kendi yang tidak berglasur pori-porinya tidak tertutup. Jadi, itulah jalan masuknya oksigen ke dalam air yang ada di dalam kendi.
Dalam filosofi Jawa, air yang disimpan di dalam kendi dimaknakan sebagai air kehidupan. Selain airnya yang memang senantiasa menghidupi kita, air yang ada di dalam kendi juga tetap bisa bernafas, tidak mati dan tidak pasif seperti halnya air yang tersimpan dalam cerek plastik/logam. Dalam beberapa acara adat, kendi juga sering digunakan sebagai pelengkap sarana. Selain itu, kendi juga kerap digunakan dalam ritual siraman pengantin. Yang maknanya, air dalam kendi adalah air alami nan suci yang akan turut memberikan kebaikan kepada pasangan pengantin.
Dalam beberapa penelitian, kendi dapat menetralisir zat mineral-mineral negatif yang terkandung dalam air. Sehingga semakin lama air itu disimpan dalam kendi, maka rasanya semakin sejuk dan segar. Kesejukan air kendi lebih nikmat daripada air kulkas atau air cooler dispenser. Dan hebatnya, air kendi yang dikonsumsi terus menerus tidak menyebabkan pusing di kepala. Namun bila air kulkas, niscaya banyak orang yang pusing dibuatnya.
Masyarakat kita jaman dahulu sudah banyak yang meyakini bahwa air kendi bisa sebagai sarana penyembuhan banyak penyakit. Jika anda pernah membaca manfaat air hexagonal dan atau air RO (reverse osmosis), kurang lebihnya sama dengan manfaat air kendi. Namun, jika anda ingin sungguh-sungguh terapi dengan air kendi, ada perlakuan khusus agar terapi itu akan cepat membawa dampat kesehatan. Bila tidak, meminum air kendi secara rutin kapan pun, adalah cara termudah untuk menyehatkan diri kita.
Waktu terwajib untuk meminum air kendi adalah saat bangun tidur dan menjelang tidur, minimal 2 gelas. Jika dilakukan terus menerus, aktifitas ini akan memberi dampak positif bagi sistem pencernaan, daya tahan tubuh, dan menghilangkan bau mulut.
Selain manfaatnya yang banyak bagi kesehatan kita, kendi air juga mempunyai sejarah luhur di negeri ini. Sekitar tahun 1980-an ke belakang (kurang dari tahun 1980), kendi yang berisi air minum banyak diletakkan di depan rumah atau di dekat jalan. Hal ini mempunyai niat untuk menyediakan siapa saja yang membutuhkan air minum. Mulai dari anak-anak yang usai bermain, pedagang yang sedang lewat, atau bahkan orang yang tak dikenal sekalipun, bebas meminum air dalam kendi itu. Sesekali pemilik rumah juga mengecek ketersediaan air dalam kendi, agar tidak ada orang yang merasa malu saat hendak meminum air dari kendi tetapi ternyata airnya habis.
Bila kita rasakan, suasana yang demikian sungguh merindukan. Betapa arifnya masyarakat kita saat itu. Kesegaran yang nikmat saja rela untuk dibagikan kepada siapa pun tanpa memandang keuntungan apa yang akan didapat.
Kendi, sebuah perabot antik yang harus kita lestarikan. Mari kita gunakan lagi dan kita rasakan kesegaran air yang tersimpan di dalamnya. Mari kita budayakan lagi berbagi kenikmatan dan kesegaran dari air yang merupakan rahmat-Nya. Bila kita mulai ramai menggunakan kendi lagi, niscaya kendi tak akan hilang tersingkir jaman.
Kendi, mau diisi dan mau berbagi.
 |
Salah satu Kendi Air Minum Khas Jawa |